Tak terasa, hampir 5 tahun sudah aku menikah. tentu masih ku ingat, ketika itu tahun 2004. Aku masih berusia 21 tahun. Kuliah belum rampung, dan prospek lulus pun tak jelas. masih muda, culun dan kurang pengalaman.
Namun ketika itu kondisi eksternal dan internal sangat memaksaku untuk mencari istri.
“Mau tak mau harus menikah, kalau tak boleh, ak tak mau melanjutkan kuliah”, kataku ke orang tua.
Maka dilangsungkanlah pernikahan, dan semenjak itu aku menjadi suami walau masih muda usia. ketika itu ak tak punya penghasilan (baik tetap atau serabutan) ataupun pekerjaan. catatan: nantinya penghasilan pertamaku yang cukup “besar” adalah 8 bulan setelah pernikahan.
Masih berstatus mahasiswa dan tak jelas prospek ke depannya apakah nanti lulus dengan sukses atau DO. Untunglah hanya mengandalkan status mahasiswa Institut Teknologi paling TOP seindonesia sudah cukup untuk mendapatkan istri yang cukup “berkualitas”, walhamdulillah untuk hal ini.
Pernikahan itu dilakukan saat ak hendak menempuh tahun ke-5 di ITB atau mulai masuk ke semester 9. Kuliah yang harus diikuti sudah tinggal sedikit, hanya saja ketidak pastian pengerjaan Tugas Akhir membuat ak tiap hari selalu merasa stress dan bahkan hal ini sampai terbawa mimpi.
Setelah menikah di Semarang dan Purwodadi, ak langsung membawa istri ku ke Bandung karena perkuliahan semester ke-9 akan dimulai. Untuk berhemat, ak mengontrak rumah di Lembang Bandung. sekitar 15 menit perjalanan naik motor dari ITB.
Walaupun sebenarnya dekat, tapi jalannya naik turun, jika terus ke utara, akan tembus ke Pasar Lembang, sementara jika ke selatan akan ke Jl Dago.
Suasana rumah itu elok nian, sangat menghijau, penduduknya sangat-sangat ramah. berada di kaki bukit, di belakangnya hutan pinus, menghijau, very romantic. Bak vila-vila mewah, meskipun penduduknya merupakan orang-orang ndeso. Nama kampungnya adala Pagerwangi, desa Pagersari.
Keramahan penduduknya sangat berbeda secara signifikan dibandingkan dengan warga kota Bandung walaupun jaraknya cuma beberapa menit saja. Dari sinilah ak tahu, bahwa orang-orang sunda sebenarnya sangat ramah dan murah hati, jauh dengan perilaku orang-orang bandung (walaupun menurutku orang bandung juga sudah cukup ramah).
Hanya saja celakanya, di situ suhunya sangat dingin. Istriku yang orang pesisir tak kuat menahan dingin. Tak ayal, istriku sering jatuh sakit. Terlebih di bulan kedua setelah pernikahan, istriku hamil. a1hamduli11ah.
Maka hanya 2 bulan tinggal di Lembang, Bandung, istriku kukembalikan ke semarang. Hingga melahirkan anak pertamaku, bulan Mei 2005. Maka semakin sempurnalah nikmat Allah padaku, di usia ke 22, ak sudah menjadi ayah dari seorang anak laki-laki. Yang tampan lagi bagus perangainya (ameen) .Dua bulan setelah anak pertamaku lahir, alhamdulillah, ak pun lulus dari ITB menjadi sarjana industrial engineer.
Setelah itu istri ku kukembalikan ke semarang, ak pun kembali ke tempat lama ku, yaitu di Asrama putra ITB di daerah cisitu. setelah tak ada istri, ak seolah menjadi mahasiswa lagi. Aku jarang belajar, hanya ketika ujian saja. Namun syukurlah akhirnya ak lulus juga, di bulan Juli 2005. Sebagai insinyur walaupun sampai kini ijazahnya belum pernah kupakai sama sekali.
Menjadi Wiraswasta
Menjadi wiraswasta, bagiku sebenarnya bukan pilihan. Bahkan bisa dibilang sedikit dipaksa. Awalnya adalah ketika sudah menikah dan belum lulus. Sebagai suami yang bertanggung jawab, tentu pertama ak harus mencari rejeki. Karena status masih mahasiswa, maka ak memanfaatkan waktu-waktu di rumah untuk melakukan apapun yg menghasilkan uang.
Tercatat beberapa biz telah kujalankan bersama teman2, dari mulai kursus privat, software hingga menulis buku. Alhamduli11ah, walaupun kecil, tapi itu cukup untuk hidup. Hingga akhirnya semenjak Februari 2005, ak sudah bisa hidup sendiri tanpa uang dari orang tua.
Setelah lulus di bulan Juli 2005, ak pun memantapkan niat untuk berpindah ke semarang, dan tidak ingin mendaftar di perusahaan-perusahaan asing atau perusahaan nasional seperti BUMN atau Swasta Nasional seperti halnya yang umum dilakukan fresh graduate.
Karena merasa bisa “hidup” dari wiraswasta ketika di bandung, maka ak nekat langsung pulang ke Semarang. Abot enteng dilakoni, ak tak ingin jauh-jauh dari istri. Without her i am nothing.
Maka semenjak agustus 2005 - sekarang, ak sudah di semarang. Walaupun beberapa kali sempat ke jakarta ketika ada order dari perush2 di jkt, tapi praktis ak selalu ada di kota Semarang. Dengan istri dan 2 anak (anak yg kedua lahir Juli 2006).
Itulah sekelumit kisah hidup. Yang kalau HAMKA bilang di bukunya,sebagai Kenang-kenangan hidup. Mungkin tak indah dan tak ideal, tapi itulah kenyataan, semoga ada hikmah. Terutama untuk anak cucu ku di masa mendatang.
Moral of this story is: Jangan ragu nikah muda, lebih banyak manfaat dari pada madharat. Untuk kisah memulai bisnis wiraswasta di semarang, akan kuceritakan di blog ini lain kali.
Berbagi
No Comments »
Filed under: Not categorized yet..