Mengapa pensiun itu bagus…

Mengapa PNS yang tua harus pensiun? agar yang jelek-jelek cepat lenyap. Dan diganti dengan tenaga muda yang lebih idealis, dan lebih bagus dibandingkan dengan sebelumnya.

* Habis dari SAMSAT

Endi Rachman, UAV experts from Indonesia

Apa yang Anda bayangkan jika sebuah industri rumahan (home industry)tidak lagi sekadar membuat suku cadang sepeda motor atau mobil, tetapi juga membuat pesawat terbang?

Bukan hanya mengerjakan satu komponen,tetapi seluruh pesawat terbang secara utuh! Ini bukan fantasi, tetapi nyata. Pabrik pesawat itu ada di Indonesia, tepatnya di Jalan Aeromodelling 4, Arcamanik, Bandung Timur. Ia berada di halaman sebuah rumah penduduk. Mungkin Gubernur Jawa Barat atau Bupati Bandung tidak pernah tahu keberadaan pabrik pesawat rumahan ini.

“Kalau mereka tahu, tentu ada sedikit perhatian,” kata Jaka Prahasta,Kepala Produksi PT Globalindo Technology Services Indonesia (GTSI),saat kami temui di pabrik pesawat, pertengahan Desember 2007.

Memang bukan pesawat terbang biasa yang bisa mengangkut penumpang, tetapi industri rumahan pembuat pesawat tanpa pemandu yang disebut Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Dibilang pesawat mini juga tidak, sebab UAV ini punya bentangan sayap 3 meter, panjang badan 2,6 meter, dan berat 20 kilogram, termasuk kamera di dalamnya. Terbuat dari bahan fiberglass yang dicetak di pabrik itu, UAV dapat terbang pada ketinggian 1.000 meter selama 2 sampai 3 jam dengan kecepatan maksimal 150 kilometer per jam. Berbeda dengan pesawat remote control manual, UAV yang bertenaga listrik 12 volt dapat terbang mandiri berkat navigasi GPS yang sudah ditanam di tubuhnya.

Pengendali jarak jauh dua tongkat dengan enam saluran hanya digunakan saat pesawat take off dan landing. Selebihnya,ia terbang mandiri mencari titik-titik koordinat yang sudah ditentukan sebelum ia terbang dengan menggunakan peta gratisan Google Earth. Aplikasi UAV tidak berhenti pada pemantauan kebakaran hutan,pencarian korban kecelakaan, pengamatan lalu lintas maritim, pencarian kandungan mineral bawah tanah, atau pengawasan titik semburan lumpur Lapindo, misalnya. Tetapi bisa dikembangkan untuk keperluan pesawat mata-mata. Di rumah penduduk yang sebagian halamannya dijadikan pabrik,diproduksi pula belasan tipe pesawat terbang aeromodelling untuk olahraga dan hobi, mulai pesawat helikopter sampai pesawat tempur,yang dikerjakan oleh 12 teknisi lulusan STM. Harga per pesawat Rp 15juta hingga Rp 25juta. Namun, bisnis inti yang serius digarap adalah UAV. Saat Media berkunjung ke industri rumahan pesawat terbang itu, satu UAV pesanan sebuah lembaga riset Malaysia sudah selesai dibuat.Tanggal 24 Desember 2007, UAV yang kemudian diberi nama Kujang ini berhasil menjalani tes terbang di Lanud Sulaeman, Bandung. Kujang¯yang merupakan senjata khas Sunda mengudara selama 30 menit, berhasil menelusuri rute yang ditentukan tanpa kendali radio, sampai mendarat selamat.

Kembangkan logika, Siapa otak di balik lahirnya UAV yang berteknologi tinggi made-in Arcamanik ini? Dialah Endri Rachman, pelarian PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang sejak delapan tahun lalu hijrah ke Malaysia untuk mengembangkan keahliannya sebagai pensyarah alias dosen. Kompas masih mencatat ucapan pria lulusan S-2 Technical University of Brunswick, Jerman, spesialis model autopilot ini saat ditemui satu tahun lalu. “Saya ingin memproduksi UAV dengan logika autopilot di Indonesia, tepatnya di Bandung,” katanya (Kompas, 29/12/2006). Rupanya ia membuktikan ucapannya itu! Tidak nasionalis? “Terserah orang mau bilang apa. Saya ini warganegara Indonesia. Kalau saya tidak nasionalis, saya pasti tidak akan membangun pabrik pesawat ini di Arcamanik, tetapi di Malaysia. Adanya pabrik pesawat ini justru agar Malaysia tidak mengklaim UAV yang saya kembangkan sebagai miliknya,” kata Endri saat ditemui di kantor pengembangan peranti UAV di sebuah ruko di Jalan Cihampelas, Bandung. Untuk mewujudkan niatnya, Endri bersama rekan-rekan alumni IPTN mendirikan PT GTSI dengan modal awal yang menurut dia tidak sampai Rp300juta. Di lantai dua ruko bekerja teknisi pesawat terbang yang rata-rata jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan IPTN. Ada Asep Permana, jebolan Jerman dan IPTN di pengembangan bisnis. Ada Widyawardana, jebolan Teknik Elektro ITB di pengembangan sistem avionic UAV. Juga ada Muhajirin, manajer drawing yang mendesain rekayasa bentuk UAV. Endri sendiri bertindak selaku direktur utama. Mengapa dengan modal yang tidak bisa dibilang besar Endri dan kawan-kawan berani melakukan langkah besar dengan mendirikan pabrik UAV di Indonesia? Jawabannya adalah “nama besar”, yakni nama besar Endri sebagai inovator pesawat yang laku dijual di Malaysia. Orang Malaysia yang memesan UAV pertamanya pun berani memberi panjar 70% dari harga UAV. Widyawardana mengakui, mesin masih didatangkan dari Amerika Serikat. Namun ke depan, katanya, PT GTSI sudah siap merancang mesin untuk UAV. Yang dikerjakan para teknisi di lantai dua ruko itu hanya rancang bangun dan pengembangan peranti lunak dan peranti keras yang akan ditanamkan di UAV. “Yang kami kembangkan adalah logika. Dengan demikian, kalau bicara software bukan hanya untuk UAV saja. Umumnya bisa diterapkan pada benda bergerak lainnya, seperti kapal selam tanpa awak atau bahkan peluru kendali yang tidak bisa terjangkau pandangan mata,” katanya.

Kumpulan “teknopreneur” Asep dan kawan-kawan di PT GTSI punya cita-cita besar, yakni menghimpun kembali para alumnus IPTN yang kini banyak berserakan dimedan usaha di luar pesawat terbang sekadar, yang disebutnya “teknopreneur” . Sudah bukan rahasia umum, selepas IPTN goyah seiring selesainya BJ Habibie mengabdi di pemerintahan, para teknisi andal IPTN banyak terserak (diaspora) di beberapa tempat. Sebagian besar lari ke luar negeri, seperti halnya Endri ke Malaysia. Ada pula yang bertahan di dalam negeri. Asep menyebut beberapa nama, antara lain Husin, ahli helikopter andal, yang kini menjadi anggota DPRD Jawa Barat. Juga ada Lian Darmakusumah, mahasiswa terbaik lulusana eronotika Perancis, yang kini berwirausaha. Untuk mewujudkan langkah itu, PT GTSI mengakuisisi sebuah bengkel yang sebelumnya hanya mengerjakan pesawat aeromodelling. Pesawat kendali untuk hobi ini tetap dipertahankan. Pilihan mengembangkan UAV tidaklah keliru. Endri mengaku sudah menerima pesanan baru, juga dari Malaysia, untuk mengerjakan Kujang 2. Perusahaan ini pun siap membuka cabang di Malaysia, sekadar mendekatkan diri kepada konsumen. Negara lain yang berpotensi sebagai pemesan adalah negara-negara Arab, seperti Uni Emirat Arab, yang sudah menyatakan minatnya memesan UAV. “Pesanan boleh datang dari mana pun, tetapi pabrik UAV tetap harus ada di sini, di Arcamanik ini,” kata Endri.

What a story…..

Apakah idealisme ilmu itu ada?

Tak terasa, sudah hampir 4 tahun lulus kuliah. Iseng2 baca situs yg tak terurus ini.

“Seorang Teknik Industri adalah seorang Productivity Engineer dimanapun dia berada.” - Prof Dr. Matthias Aroef (Pendiri Teknik Industri ITB)

Seorang teknik industri adalah seorang yang berhadapan dengan sistem. Mereka mempunyai kemampuan untuk merancang, mengimplementasi, maupun meningkatkan sebuah sistem terintegrasi yang terdiri dari manusia, mesin, material, informasi, atau energi. Seorang teknik industri dapat menemukan cara yang lebih baik dalam hal apapun.

Kata kunci teknik industri adalah produktifitas, efektivitas, dan efisiensi.

Karir yang dapat ditempuh seorang mahasiswa teknik industri setelah lulus adalah production engineers, supply chain managers, operation analysts, quality engineers, and information system analysts. Bidang yang digeluti juga sangat luas, segala macam bisnis, perusahaan, maupun pemerintahan yang menginginkan peningkatan kinerja dan mengurangi biaya membutuhkan seorang teknik industri. Selain itu juga, banyak lulusan teknik industri yang membuat usaha sendiri maupun masuk ke dalam konsultan.

Teknik industri merupakan program studi yang menantang, berkualitas dan penuh peluang. Tidak ada tempat yang tidak akan dapat kamu tuju dengan menjadi sarjana teknik industri.

Masih adakah ilmu itu? atau sudah lenyap di telan pragmatisme, ditengah bujuk rayu uang dan tugas harian yang menumpuk, entahlah… aku sendiri tak mengetahuinya…. Namun, yang kuyakini… Ilmu tentang produktivitas, selalu ada di benak, mengakar kuat di relung hati….

Karena ilmu itu tidak sempit, tapi luas seluas cakrawala. Kuat dan rigid, namun flexible dan adaptive. Ya, aku yakin ilmu itu masih ada. Hanya sekarang berevolusi ke bentuk yang lebih baru, yang lebih sempurna dan implementatif.

Walaupun ak tidak menyukai dosen2 di jurusan Teknik Industri ITB, bahkan kenangan-kenangan buruk itu masih saja ada di dalam otakku. Namun keberhasilan untuk akhirnya lulus sebagai engineer tetap merupakan prestasi yang selalu kukenang (walaupun sampai sekarang ijazahnya belum pernah kupakai), dan dengan bangga akan kuceritakan ke anak cucu. Itu membuktikan ak seorang yang bertanggung jawab, menyelesaikan sesuatu yang langkah awalnya sudah kupilih dengan sadar, walaupun di tengah jalan banyak aral yang menghadang.

Internet, ibarat pisau bermata dua

Internet adalah sebuah tempat yang sangat luas… Menampung banyak informasi, data dan cuplikan peristiwa yang beragam. Ada yang positif, ekstrem kanan, ekstrem kiri dan negatif. Mengerikan sekali internet itu seandainya tidak difilter dengan baik.

Sebut saja unappropriate content, hate speech dan sebagainya. dibutuhkan kebijaksanaan, kontrol dari orang tua, serta filter dari pemerintah. Karena itu saya setuju sekali jika pemerintah memfilter konten-konten yang tak berguna. SEbagai orang tua, tentu akan selalu mengharapkan yang terbaik untuk anak-anak.

Memang ada kerugian jika difilter, namun manfaatnya yang diperoleh akan lebih banyak…..

Seburuk-buruk orang, akan selalu mengharapkan anak keturunannya menjadi orang baik dan kuat. Baik kuat karakter, iman dan mentalnya.

Ada untungnya saya punya istri yang tidak mengerti dan tidak menyukai internet. Sehingga bisa fokus mendidik anak, dan tidak kecanduan internet.

Orang yang terhubung ke internet, harus lah bijaksana…. filter konten…buang yang tak berguna. Selain itu jika sudah terlanjur, cari obatnya…. antara lain menikah….

Quote of the day

Tak ada orang yang pintar yang terlatih, yang ada hanyalah orang yang selalu berlatih.

Benar….

Kisah pernikahan

Tak terasa, hampir 5 tahun sudah aku menikah. tentu masih ku ingat, ketika itu tahun 2004. Aku masih berusia 21 tahun. Kuliah belum rampung, dan prospek lulus pun tak jelas. masih muda, culun dan kurang pengalaman.

Namun ketika itu kondisi eksternal dan internal sangat memaksaku untuk mencari istri.

“Mau tak mau harus menikah, kalau tak boleh, ak tak mau melanjutkan kuliah”, kataku ke orang tua.

Maka dilangsungkanlah pernikahan, dan semenjak itu aku menjadi suami walau masih muda usia. ketika itu ak tak punya penghasilan (baik tetap atau serabutan) ataupun pekerjaan. catatan: nantinya penghasilan pertamaku yang cukup “besar” adalah 8 bulan setelah pernikahan.

Masih berstatus mahasiswa dan tak jelas prospek ke depannya apakah nanti lulus dengan sukses atau DO. Untunglah hanya mengandalkan status mahasiswa Institut Teknologi paling TOP seindonesia sudah cukup untuk mendapatkan istri yang cukup “berkualitas”, walhamdulillah untuk hal ini.

Pernikahan itu dilakukan saat ak hendak menempuh tahun ke-5 di ITB atau mulai masuk ke semester 9. Kuliah yang harus diikuti sudah tinggal sedikit, hanya saja ketidak pastian pengerjaan Tugas Akhir membuat ak tiap hari selalu merasa stress dan bahkan hal ini sampai terbawa mimpi.

Setelah menikah di Semarang dan Purwodadi, ak langsung membawa istri ku ke Bandung karena perkuliahan semester ke-9 akan dimulai. Untuk berhemat, ak mengontrak rumah di Lembang Bandung. sekitar 15 menit perjalanan naik motor dari ITB.

Walaupun sebenarnya dekat, tapi jalannya naik turun, jika terus ke utara, akan tembus ke Pasar Lembang, sementara jika ke selatan akan ke Jl Dago.

Suasana rumah itu elok nian, sangat menghijau, penduduknya sangat-sangat ramah. berada di kaki bukit, di belakangnya hutan pinus, menghijau, very romantic. Bak vila-vila mewah, meskipun penduduknya merupakan orang-orang ndeso. Nama kampungnya adala Pagerwangi, desa Pagersari.

Keramahan penduduknya sangat berbeda secara signifikan dibandingkan dengan warga kota Bandung walaupun jaraknya cuma beberapa menit saja. Dari sinilah ak tahu, bahwa orang-orang sunda sebenarnya sangat ramah dan murah hati, jauh dengan perilaku orang-orang bandung (walaupun menurutku orang bandung juga sudah cukup ramah).

Hanya saja celakanya, di situ suhunya sangat dingin. Istriku yang orang pesisir tak kuat menahan dingin. Tak ayal, istriku sering jatuh sakit. Terlebih di bulan kedua setelah pernikahan, istriku hamil. a1hamduli11ah.

Maka hanya 2 bulan tinggal di Lembang, Bandung, istriku kukembalikan ke semarang. Hingga melahirkan anak pertamaku, bulan Mei 2005. Maka semakin sempurnalah nikmat Allah padaku, di usia ke 22, ak sudah menjadi ayah dari seorang anak laki-laki. Yang tampan lagi bagus perangainya (ameen) .Dua bulan setelah anak pertamaku lahir, alhamdulillah, ak pun lulus dari ITB menjadi sarjana industrial engineer.

Setelah itu istri ku kukembalikan ke semarang, ak pun kembali ke tempat lama ku, yaitu di Asrama putra ITB di daerah cisitu. setelah tak ada istri, ak seolah menjadi mahasiswa lagi. Aku jarang belajar, hanya ketika ujian saja. Namun syukurlah akhirnya ak lulus juga, di bulan Juli 2005. Sebagai insinyur walaupun sampai kini ijazahnya belum pernah kupakai sama sekali.

Menjadi Wiraswasta

Menjadi wiraswasta, bagiku sebenarnya bukan pilihan. Bahkan bisa dibilang sedikit dipaksa. Awalnya adalah ketika sudah menikah dan belum lulus. Sebagai suami yang bertanggung jawab, tentu pertama ak harus mencari rejeki. Karena status masih mahasiswa, maka ak memanfaatkan waktu-waktu di rumah untuk melakukan apapun yg menghasilkan uang.

Tercatat beberapa biz telah kujalankan bersama teman2, dari mulai kursus privat, software hingga menulis buku. Alhamduli11ah, walaupun kecil, tapi itu cukup untuk hidup. Hingga akhirnya semenjak Februari 2005, ak sudah bisa hidup sendiri tanpa uang dari orang tua.

Setelah lulus di bulan Juli 2005, ak pun memantapkan niat untuk berpindah ke semarang, dan tidak ingin mendaftar di perusahaan-perusahaan asing atau perusahaan nasional seperti BUMN atau Swasta Nasional seperti halnya yang umum dilakukan fresh graduate.

Karena merasa bisa “hidup” dari wiraswasta ketika di bandung, maka ak nekat langsung pulang ke Semarang. Abot enteng dilakoni, ak tak ingin jauh-jauh dari istri. Without her i am nothing.

Maka semenjak agustus 2005 - sekarang, ak sudah di semarang. Walaupun beberapa kali sempat ke jakarta ketika ada order dari perush2 di jkt, tapi praktis ak selalu ada di kota Semarang. Dengan istri dan 2 anak (anak yg kedua lahir Juli 2006).

Itulah sekelumit kisah hidup. Yang kalau HAMKA bilang di bukunya,sebagai Kenang-kenangan hidup. Mungkin tak indah dan tak ideal, tapi itulah kenyataan, semoga ada hikmah. Terutama untuk anak cucu ku di masa mendatang.

Moral of this story is: Jangan ragu nikah muda, lebih banyak manfaat dari pada madharat. Untuk kisah memulai bisnis wiraswasta di semarang, akan kuceritakan di blog ini lain kali.

I am not impressed with black berry curve

curveHow could RIM produce this impotent gadget, there’s no 3G/UMTS and HSDPA. This gadget couldn’t be used effectively in Indonesia. No 3G, nope…..

I won’t be wasteful by buying this gadget. I think Nokia E71 or black berry Bold still better.

PS: my SIM card can only used for data services and cannot be used for calling.

Jadi wiraswasta enaknya banyak kenalan

sempat terpikir, jadi wiraswasta apa ya enaknya?

mungkin jawaban klise adalah waktu yang bebas, untuk case saya, mungkin benar. Tapi banyak juga wiraswastawan yang justru lebih sibuk dibandingkan dengan orang gajian.

saya memang sering di rumah, terlalu sering malah. Jarang sekali keluar, karena jarang keluar, malah sering kali mengadakan outing di luar rencana, seperti cari makanan, wisata kuliner, jalan2 tak jelas. dan sebagainya

salah satu alasan yang saya sukai kenapa menjadi wiraswasta adalah berkenalan dengan banyak orang. Okelah orang gajian mungkin punya banyak kenalan, tapi kenalannya sulit untuk menjadi akrab. Paling-paling value dari hubungannya adalah hubungan bisnis, yang garing dan tak punya value humanism.

pengalaman jadi wiraswasta 4 tahun, sy sudah sangat mengenal beberapa orang yang sangat mengayakan pengalaman hidup.

Di tahun 2005, saya kenal dengan seorang yang sangat saya kagumi. Orang minang, marga piliang, bertempat tinggal di bandung beliau ini. Beliaulah yang menerbitkan buku pertama saya ketika saya masih jadi mahasiswa teknik industri di institut gajah. Dimana uangnya pas untuk melahirkan anak pertama sekaligus mengakikahinya (ya, sy sudah nikah ketika mahasiswa, umur 21). Dari orang ini, sy belajar bagaimana rendah hati, bangga menjadi wiraswasta dan sekaligus santai dan tidak ceroboh. Orang ini adalah orang yang amaaat kaya menurut saya, penghasilannya mungkin saat ini kira-kira sudah 100 jutaan sebulan (beliau dulu pernah ngasih saya laporan omzet perushnya sampai detil… till… ). Tapi gaya hidupnya persis orang biasa…. mobilnya pun masih kijang kuno. Dulu saya sempat bertanya, pak kok gak ganti Aplhard kenapa pak? Beliau pun hanya tersenyum tak menjawab apapun. Terimakasih pak, dari anda lah saya banyak belajar hidup, terutama hidup sebagai wiraswasta.

Masih di tahun yang sama di kota bandung selatan yang elok tapi macet, saya berkenalan dengan orang batak, marga sembiring. Dari melihat perush org ini, sy belajar bagaimana membangun sebuah bisnis yang well managed, dan professional. Saya jarang bercakap dengan orang ini, yg sering meladeni saya justru salah satu karyawannya, org jawa, dari jogja dan sangat santun (terimakasih pak, beliau -karyawan perush ini- sangat berjasa bagi saya. uang dari perush ini cukup menyokong kehidupan setelah 2 tahun lulus). Karena arsitektur company dia yang profesional, atasan jarang langsung terjun ke shop floor. Akibatnya bisnis berjalan efisien dan efektif, walaupun saya sebenarnya rugi, karena sulit untuk bisa mencari/mencuri ilmu berbisnis, ngangsu kawruh dari orang ini……

Masih di tahun yang sama 2005, dan juga masih di bandung selatan. Saya berkenalan dengan seorang bapak tua, yang sangat hebat. Orang Aceh, suku Gayo. Pengalaman hidup bapak tua ini sangat mengagumkan. Saya masih ingat bagaimana ia mengajari saya untuk hidup dengan punya wacana, dan bangga sebagai wirausahawan. Bapak ini orangnya sudah tua, umur 60 lebih, sudah berpengalaman di Amerika, Australia dan akhirnya pulang ke INdonesia di usia 29, ya bapak ini merantau ke Amerika sejak usia 17 tahun, lalu ke balik lagi ke indonesia jadi penjahit tas di Cibaduyut bandung sekitar usia 21 (sangat kontras kan!?). Tak betah menganggur, ia pun merantau ke australia tanpa modal apapun (jaman dulu katanya mudah merantau tinggal bawa uang dan paspor saja, tanpa ada penjamin di sana). sekitar 7 tahun di australia dan new zealand, ia pulang ke bandung, menikah dan memulai usahanya hingga akhirnya menjadi milyuner.

Sejak itu, sejak pulang ke semarang, saya sulit menemukan relasi sehebat 4 grand old man yang di atas (3 pemilik usaha dan 1 karyawan yang sangat mempengaruhi hidup saya). Mungkin karena di semarang, sy hanya bergaul dengan orang-orang yang usianya sepantaran, atau maksimal pebisnis usia 30an tahun.

Di bandung, euforia bisnis lebih terasa daripada di semarang. Walaupun akhirnya alhamdulillah bisa survive juga di semarang. UNtuk teman-teman sy di semarang, yang tak kalah hebat…. Kapan2 akan saya tulis sendiri di post yang lain……

A solar eclipse in indonesia yesterday

A solar eclipse in Indonesia happens yesterday. This is the image from national geographics.

solar image indonesia

Bila kebosanan menyapa

Bosan, adalah sesuatu yang sulit untuk ditolak. ketika bekerja terus menerus di bidang yang sama, selama 4 tahun berturut-turut. Tentu muuncul rasa bosan, rasa jengah, neg.

Inilah yang sedang kurasakan. Ingin rasanya menghilang sebulan atau dua bulan. Apa ada ya teknik jitu untuk mengusir kebosanan.